PENINGKATAN PERAN SERTA SISWA SEKOLAH DASAR SEBAGAI JUMANTIK NYAMUK DBD  DI KUTARAJA, BANDA ACEH

PENINGKATAN PERAN SERTA SISWA SEKOLAH DASAR SEBAGAI JUMANTIK NYAMUK DBD DI KUTARAJA, BANDA ACEH

Kepala Dinas Kesehatan Aceh, dr Hanif, mengemukakan bahwa dalam kurun waktu dua tahun total penderita DBD di Aceh mengalami peningkatan yang cukup serius. Total penderita DBD tahun 2016 mencapai 2,543 jiwa dan total meninggal sebanyak 19 orang, berbanding jauh pada tahun 2015 dengan total penderita sebanyak 1,510 jiwa dan total meninggal 6 orang . Telah banyak upaya yang dilakukan oleh Dinkes Aceh dalam pengendalian DBD termasuk diantaranya adalah upaya promosi kesehatan untuk meningkatkan peran serta masyarakat.

Kasus DBD dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku masyarakat yang kurang dan juga partisipasi masyarakat yang sangat rendah dalam pencegahan DBD melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus. Pemantauan jentik nyamuk DBD di rumah-rumah warga selama ini mengandalkan kader juru pemantau jentik (Jumantik). Kader jumantik biasanya adalah ibu-ibu Rumah Tangga yang aktif dan mau menjadi kader serta mendapat pelatihan.

Banyaknya jumlah rumah yang menjadi tanggung jawab kader dan terbatasnya waktu pemeriksaan jentik di rumah-rumah warga membuat hasil pemantauan kurang maksimal. Oleh karenanya dengan melibatkan kelompok anak sekolah sebagai Jumantik dapat berperan strategis dalam pemantauan jentik baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Selain itu, menggerakkan anak sekolah akan lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa dalam pelaksanaan PSN sehingga dapat menjadi trigger bagi keluarganya untuk dapat menerapkan perilaku PSN.

Tim pengmas Universitas Indonesia dengan ketua Ibu Dr. dra. Dewi Susanna, MS. dan anggota Prof. dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH. Ph.D mengadakan kegiatan training siswa SD sebagai jumantik di Kec kutaraja Banda Aceh. Selain itu, kegiatan tsb juga melibatkan dosen dari Perguruan tinggi lain yaitu Ibu Dr. Kholis Ernawati, MKes dari Universitas YARSI, dan Dosen Poltekkes Banda Aceh yaitu Bapak Dr. Hermansyah, MPH dan Ibu Ritawati, S.Kep, MPH

Lokasi kegiatan dipilih kecamatan Kutaraja karena sebelumnya yaitu tahun 2015 di kecamatan Kutaraja pernah diadakan kegiatan pelatihan siswa SD sebagai Jumantik. Peserta pelatihan training adalah Semua siswa adalah peserta yang pernah ikut training sismantik yang diadakan oleh Tim Pengmas UI pada tahun 2015.

Pada saat itu siswa yang akan ikut training masih kelas 4 SD. Sekarang siswa-siswa tersebut sudah kelas 6 SD. Sehingga tujuan training Diharapkan setelah training, siswa sismantik menjadi motivator dan trainer bagi adik kelasnya. Jumlah semua siswa dari ketiga SD yang akan ikut training adalah 31 orang (9 siswa SDN 17, 12 siswa SDN 6, 10 siswa SDN 70). Pelaksanaan training selama dua hari yaitu hari Kamis — Jumat, 3 — 4 Agustus 2017 di sekolah SDN 17.

Training pada hari pertama adalah tentang konsep morfologi jentik nyamuk dan praktek identifikasi jentik nyamuk. Materi hari kedua adalah pemutaran video Animasi DBD yang diproduksi oleh Promkes Kemenkes tahun 2004 yang berdurasi 20.17 menit yang berjudul “Awas Nyamuk Jahat”.

Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan cara mengisi formulir pemantauan jentik yang dilakukan oleh guru pendamping. Selain itu anak-anak juga melakukan kegiatan role playing perwakilan masing-masing sekolah. Tiap grup bermain peran dengan tema yang berkaitan dengan penyakit demam berdarah.

Follow up dari pelatihan ada kegiatan pemantauan jentik oleh siswa yang telah dilatih. Pemantuan jentik dilaksanakan 4 kali selama bulan Agustus. SD 6 mulai mengumpulkan pada hari sabtu tanggal 5 Agustus 2017. Sedangkan SD 17 dan SD 70 mulai tanggai 7 Agustus 2017. Data yang dikumpulkan setiap minggu kemudian di rekap oleh guru pendamping dan kemudian di tandatangani dan disahkan oleh kepala sekolah masing-masing. Selama pelaksanaan kegiatan pemantauan jentik tetap dibawah pengawasan dan pendampingan tim pengmas dari Poltekkes Banda Aceh yang bekerja sama dengan puskesmas Lampaseh yang berada di Kutaraja.

Saran setelah kegiatan pengmas adalah koordinasi dengan dinas pendidikan untuk menjajagi kemungkinan materi pemantauan jentik oleh Siswa SD dapat diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen). Adanya kemandirian sekolah dalam melaksanakan kegiatan ini, sehingga keberlangsungan (sustainabilty) kegiatan sismantik mencapai sasaran yaitu Angka Bebas Jentik (ABJ) meningkat dan kasus DBD menurun.

Sumber

366 Total Views 1 Views Today
Share